trauma thorax





DEFINISI
Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002).
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).
.

ANATOMI
1.     Anatomi Rongga Thoraks
Kerangka dada yang terdiri dari tulang dan tulang rawan, dibatasi oleh :
a.    Depan : Sternum dan tulang iga.
b.    Belakang : 12 ruas tulang belakang (diskus intervertebralis).
c.    Samping : Iga-iga beserta otot-otot intercostal.
d.    Bawah : Diafragma
e.    Atas : Dasar leher.
2.    Isi
a.    Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.
b.    Mediatinum : ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).

ETIOLOGI
1.     Trauma tembus
a.    Luka Tembak
b.    Luka Tikam / Tusuk
2.    Trauma tumpul
a.    Kecelakaan kendaraan bermotor
b.    Jatuh
c.    Pukulan pada dada

KLASIFIKASI
1.     Tamponade jantung : disebabkan luka tusuk dada yang tembus ke mediastinum/daerah jantung.
2.    Hematotoraks : disebabkan luka tembus toraks oleh benda tajam, traumatik atau spontan.
3.    Pneumothoraks : spontan (bula yang pecah) ; trauma (penyedotan luka rongga dada) ; iatrogenik (“pleural tap”, biopsi paaru-paru, insersi CVP, ventilasi dengan tekanan positif) (FKUI, 1995).

PROGNOSIS PENYAKIT
1.     Open Pneumothorak
Timbul karena trauma tajam, ada hubungan dengan rongga pleura sehingga paru menjadi kuncup. Seringkali terlihat sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi ( sucking chest wound ). Apabila luban ini lebih besar dari pada 2/3 diameter trachea, maka pada inspirasi udara lebih mudah melewati lubang dada dibandingkan melewati mulut sehingga terjadi sesak nafas yang hebat
2.    Tension Pneumothorak
Adanya udara didalam cavum pleura mengakibatkan tension pneumothorak. Apabila ada mekanisme ventil karena lubang pada paru maka udara akan semakin banyak pada sisi rongga pleura, sehingga mengakibatkan :
a.    Paru sebelahnya akan terekan dengan akibat sesak yang berat
b.    Mediastinum akan terdorong dengan akibat timbul syok
c.    Pada perkusi terdengar hipersonor pada daerah yang cedera, sedangkan
d.    pada auskultasi bunyi vesikuler menurun.
3.    Hematothorak masif
Pada keadaan ini terjadi perdarahan hebat dalam rongga dada. Ada perkusi terdengar redup, sedang vesikuler menurun pada auskultasi.
4.    Flail Chest
Tulang iga patah pada 2 tempat pada lebih dari 2 iga sehingga ada satu segmen dinding dada yang tidak ikut pada pernafasan. Pada ekspirasi segmen akan menonjol keluar, pada inspirasi justru masuk kedalam yang dikenal dengan pernafasan paradoksal.

PATOFISIOLOGI
Dada merupakan organ besar yang membuka bagian dari tubuh yang sangat mudah terkena tumbukan luka. Karena dada merupakan tempat jantung, paru dan pembuluh darah besar. Trauma dada sering menyebabkan gangguan ancaman kehidupan. Luka pada rongga thorak dan isinya dapat membatasi kemampuan jantung untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk pertukaran udara dan osigen darah. Bahaya utama berhubungan dengan luka dada biasanya berupa perdarahan dalam dan tusukan terhadap organ
Luka dada dapat meluas dari benjolan yang relatif kecil dan goresan yang dapat mengancurkan atau terjadi trauma penetrasi. Luka dada dapat berupa penetrasi atau non penetrasi ( tumpul ). Luka dada penetrasi mungkin disebabkan oleh luka dada yang terbuka, memberi keempatan bagi udara atmosfir masuk ke dalam permukaan pleura dan mengganggua mekanisme ventilasi normal. Luka dada penetrasi dapat menjadi kerusakan serius bagi paru, kantung dan struktur thorak lain.

TANDA DAN GEJALA
Tanda-tanda dan gejala pada trauma thorak :
1.     Ada jejas pada thorak
2.    Nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi
3.    Pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi
4.    Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek
5.    Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan
6.    Penurunan tekanan darah\

MANIFESTASI KLINIS
1.     Tamponade jantung :
a.    Trauma tajam didaerah perikardium atau yang diperkirakan menembus jantung.
b.    Gelisah.
c.    Pucat, keringat dingin.
d.    Peninggian TVJ (tekanan vena jugularis).
e.    Pekak jantung melebar.
f.    Bunyi jantung melemah.
g.    Terdapat tanda-tanda paradoxical pulse pressure.
h.    ECG terdapat low voltage seluruh lead.
i.     Perikardiosentesis keluar darah (FKUI, 1995).
2.    Hematotoraks :
a.    Pada WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD
b.    Gangguan pernapasan (FKUI, 1995).
3.    Pneumothoraks :
a.    Nyeri dada mendadak dan sesak napas.
b.    Gagal pernapasan dengan sianosis.
c.    Kolaps sirkulasi.
d.    Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara napas yang terdengar jauh atau tidak terdengar sama sekali.
e.    Pada auskultasi terdengar bunyi klik (Ovedoff, 2002).

KOMPLIKASI
1.     Iga : fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada.
2.    Pleura, paru-paru, bronkhi : hemo/hemopneumothoraks-emfisema pembedahan.
3.    Jantung : tamponade jantung ; ruptur jantung ; ruptur otot papilar ; ruptur klep jantung.
4.    Pembuluh darah besar : hematothoraks.
5.    Esofagus : mediastinitis.
6.    Diafragma : herniasi visera dan perlukaan hati, limpa dan ginjal (Mowschenson, 1990).
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.     Radiologi : foto thorax (AP).
2.    Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun.
3.    Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
4.    Hemoglobin : mungkin menurun.
5.    Pa Co2 kadang-kadang menurun.
6.    Pa O2 normal / menurun.
7.    Saturasi O2 menurun (biasanya).
8.    Oraksentesis : menyatakan darah/cairan,

PENATALAKSANAAN
1.     Darurat
a.    Anamnesa yang lengkap dan cepat. Anamnesa termasuk pengantar yang mungkin melihat kejadian. yang ditanyakan :
o   Waktu kejadian
o   Tempat kejadian
o   Jenis senjata
o   Arah masuk keluar perlukaan
o   Bagaimana keadaan penderita selama dalam transportasi.
b.    Pemeriksaan harus lengkap dan cepat, baju penderita harus dibuka, kalau perlu seluruhnya.
o   Inspeksi
-      Kalau mungkin penderita duduk, kalau tidak mungkin tidur. Tentukan luka masuk dan keluar.
-      Gerakkan dan posisi pada akhir inspirasi.
-      Akhir dari ekspirasi.
o   Palpasi
-      Diraba ada/tidak krepitasi
-      Nyeri tekan anteroposterior dan laterolateral.
-      Fremitus kanan dan kiri dan dibandingkan
o   Perkusi
-      Adanya sonor, timpanis, atau hipersonor.
-      Aadanya pekak dan batas antara yang pekak dan sonor seperti garis lurus atau garis miring.
o   Auskultasi
-      Bising napas kanan dan kiri dan dibandingkan.
-      Bising napas melemah atau tidak.
-      Bising napas yang hilang atau tidak.
-      Batas antara bising napas melemah atau menghilang dengan yang normal.
-      Bising napas abnormal dan sebutkan bila ada.
Ó Pemeriksaan tekanan darah.
Ó Kalau perlu segera pasang infus, kalau perlu s yang besar.
Ó Pemeriksan kesadaran.
Ó Pemeriksaan Sirkulasi perifer.
Ó Kalau keadaan gawat pungsi.
Ó Kalau perlu intubasi napas bantuan.
Ó Kalau keadaan gawat darurat, kalau perlu massage jantung.
Ó Kalau perlu torakotomi massage jantung internal.
Ó Kalau keadaan stabil dapat dimintakan pemeriksaan radiologik (Foto thorax AP, kalau keadaan memungkinkan).
2.    Therapy
a.    Chest tube / drainase udara (pneumothorax).
b.    WSD (hematotoraks).
c.    Pungsi.
d.    Torakotomi.
e.    Pemberian oksigen.

MANAJEMEN KEPERAWATAN
Pengkajian
Pengkajian pasien dengan trauma thoraks (Doenges, 2000) meliputi :
a.    Aktivitas / istirahat
Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
b.    Sirkulasi
Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah, tanda Homman ; TD : hipotensi/hipertensi ; DVJ.
c.    Integritas ego
Tanda : ketakutan atau gelisah.
d.    Makanan dan cairan
Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
e.    Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri uni laterl, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher, bahu dan abdomen.
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah.
f.    Pernapasan
Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma, penyakit paru kronis, inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial menyebar, keganasan ; pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM.
Tanda : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak ada ; fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada tidak sama ; kulit pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan ; mental ansietas, bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif.
g.    Keamanan
Geajala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk keganasan.
h.    Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah intratorakal/biopsy paru.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektif.
Kriteria hasil :
a.    Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
b.    Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
c.    Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab
Intervensi :
1.     Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
2.    Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
3.    Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
4.    Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
5.    Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
6.    Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam :
a.    Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.
R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.
b.    Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.
R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.
c.    Observasi gelembung udara botol penempung.
R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.
d.    Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.
R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.
e.    Catat karakter/jumlah drainage selang dada.
R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.
7.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
a.    Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
o   Pemberian antibiotika.
o   Pemberian analgetika.
o   Fisioterapi dada.
o   Konsul photo toraks.
R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
Tujuan : Jalan napas lancar/normal
Kriteria hasil :
Menunjukkan batuk yang efektif.
Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
Klien nyaman.
Intervensi :
1.     Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
2.    Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
a.    Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
b.    Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.
c.    Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.
d.    Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
3.    Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
4.    Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
5.    Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
6.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
a. Pemberian expectoran.
b. Pemberian antibiotika.
c. Fisioterapi dada.
d. Konsul photo toraks.
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
a.    Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
b.    Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan nyeri.
c.    Pasien tidak gelisah.
Intervensi :
1.     Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.
R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
2.    Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.
3.    Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
4.    Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.
5.    Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
6.    Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.
R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.
7.    Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.
R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil :
a.    Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
b.    Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
c.    Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi
Intervensi :
1.     Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.
2.    Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.
3.    Pantau peningkatan suhu tubuh.
R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.
4.    Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.
R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
5.    Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
6.    Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
7.    Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R/ antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil :
a.    Penampilan yang seimbang.
b.    Melakukan pergerakkan dan perpindahan.
c.    Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi
Dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi :
1.     Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
2.    Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
3.    Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
4.    Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
5.    Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.

Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil :
a.    Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
b.    Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
c.    Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi
Intervensi :
1.     Pantau tanda-tanda vital.
R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
2.    Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
3.    Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
4.    Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
5.    Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme pathogen
DAFTAR PUSTAKA
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC
Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : EGC
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC
FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu bedah. Jakarta : Binarupa Aksara
Mowschenson, Peter M. 1990. Segi Praktis Ilmu Bedah Untuk pemula, Edisi 2.
Jakarta : Binarupa Aksara
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth,
Edisi.8 Vol.3. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 7. Jakarta :
EGC